Aku memang suka kepada puisi. Puisi pertama yang membarakan minatku ialah puisi Di Makam Bonda. Puisi Usman Awang selalu mendapat tempat di hatiku. Aku juga suka mendengar orang mendeklamasi puisi. Rendra bagiku sukar dicari ganti dalam hal mendeklamasi puisi.Salah sebuah puisi yang tidak dapat kulupakan (tidak mungkin dapat kulupakannya) ialah puisi 'The Daffodils' karangan Wordworth. Aku tidak tahu kenapa aku suka puisi ini. Puisi ini ditulis ketika Wordworth mengamati keindahan pemandangan di tepi tasik England yang dipenuhi bunga daffodil. Walaupun aku tidak dapat membayangkan keindahan tasik tersebut, namun aku dapat merasai harum daffodils. Bunga itu bagaikan tersemat di hatiku sepanjang waktu. Begitulah mendalamnya pengaruh puisi Wordworth terhadapku.
Di sini aku turunkan sebahagian puisi tersebut:
Hidupku kembara keseorangan bagaikan awan
Yang mengapung mengatasi lurah dan bukit,
Apabila tiba-tiba ku melihat,
Sejambak daffodils yang indah;
Bersebelahan tasik, bernaungkan pepohon,
Berkibar dan berdansa mengikut angin.
Bagaikan kilauan di depan mata
Anugerah keriangan hidup kesendirian;
Melipurkan hati yang lara,
Lalu berdansa bersama daffodil.
- (Wordsworth)
Andainya kehidupan ini umpama teater, ingin aku tulis kembali ceritanya agar dapat aku bersama Wordsworth menikmati keindahan daffodils.